Dari Modal Rp 500 Ribu dan Hobi Masa Kecil, Tangan Nona Indonesia Naik Kelas Bersama BRI Incubator

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Nur Cahyaningsih (32), merajut bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Dari jemarinya lahir berbagai karya berupa boneka amigurumi, tas hingga hiasan dinding makrame. Perempuan asal Sleman, Yogyakarta, itu sudah mengenal dunia kerajinan tangan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

"Kalau ditanya sejak kapan suka crafting, sebenarnya dari kecil. Waktu SD sudah pegang hakpen, walaupun masih sangat sederhana. SMP pernah diajari membuat gantungan pot dengan teknik makrame, meski waktu itu saya belum tahu namanya makrame," kata Nur.

Seiring waktu, ketertarikannya di dunia rajut terus tumbuh. Rasa penasaran membuat wanita lulusan Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga itu belajar secara otodidak melalui internet dan YouTube. Apalagi ketika pandemi Covid-19 membuat ia harus kehilangan pekerjaan.

"Masa pandemi saya banyak di rumah. Dari situ mulai eksplor lagi, belajar sendiri membuat amigurumi. Ternyata rasa penasaran itu bisa menghasilkan beberapa produk kerajinan," ujarnya.

Bagi Nur, merajut bukan hanya menghasilkan produk yang bisa dijual, tetapi juga menjadi cara untuk menenangkan diri.

"Kalau crochet itu seperti healing. Ada hitungannya, jadi ketika lagi capek atau banyak pikiran, saya bisa lebih fokus. Selain menghasilkan karya, merajut juga membantu saya mengelola emosi ke hal yang lebih positif," tuturnya.

Berawal dari Modal Nekat Rp500 Ribu

Berbekal keterampilan merajut yang terus diasah, ia mulai memberanikan diri menjual hasil karyanya dengan nama NC Craft. Modal yang digunakan pun terbilang sangat sederhana, hanya sekitar Rp500 ribu untuk membeli benang dan perlengkapan pendukung produksi.

“Kalau dirupiahkan mungkin sekitar Rp500 ribu. Itu untuk beli benang dan perlengkapan kecil. Modalnya sebenarnya modal nekat,” ujar Nur sambil tertawa.

Di masa-masa awal, pasar pertamanya datang dari lingkungan terdekat. Nur memanfaatkan WhatsApp dan media sosial untuk memperkenalkan produk buatannya kepada teman dan kerabat. Dari berbagai karya yang dipasarkan, boneka amigurumi custom menjadi produk yang paling cepat menarik perhatian pelanggan.

Produk yang bisa dibuat sesuai permintaan membuat karya Nur memiliki nilai eksklusif tersendiri. Dari mulut ke mulut, pesanan pun mulai berdatangan dari jaringan pertemanan hingga menjangkau pelanggan yang lebih luas.

“Teman-teman banyak yang suka karena produknya eksklusif dan bisa custom. Dari situ mulai menyebar ke orang-orang lain,” katanya.

Meski sempat kembali bekerja sebagai karyawan, Nur akhirnya dihadapkan pada pilihan besar antara melanjutkan karier profesional atau menekuni usaha yang telah dirintisnya. Ia memilih tidak memperpanjang kontrak kerja dan fokus mengembangkan bisnis kerajinan.

“Pengorbanan terbesar saya adalah meninggalkan karier di perusahaan. Tapi ternyata keputusan itu enggak sia-sia. Saya merasa semuanya worth it,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari diri sendiri. Rasa lelah, pesanan yang menurun, hingga motivasi yang naik turun menjadi bagian yang harus dihadapi setiap pengusaha.

“Tantangan terbesar sebenarnya diri sendiri. Kadang capek, order sedang turun, motivasi ikut turun. Sebagai perintis, semua itu memang harus dihadapi,” katanya.

Tangan Nona Indonesia, Karya Seni yang Dikerjakan dengan Hati

Pada pertengahan 2024, Nur mulai menata usahanya secara lebih serius dengan mengurus legalitas sekaligus melakukan rebranding dari NC Craft menjadi Tangan Nona Indonesia. Nama tersebut dipilih karena seluruh produk yang dihasilkan dibuat secara handmade langsung oleh dirinya. Dari sini lahir tagline Creating Your Happiness yang menekankan bahwa setiap produk bukan hanya barang, tetapi juga karya seni yang membawa kebahagiaan bagi pelanggan.

Melalui usahanya, Nur memproduksi berbagai kerajinan rajut dan makrame seperti gantungan kunci, boneka amigurumi, tas, hingga dekorasi rumah dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp550 ribu. Produk boneka amigurumi menjadi yang paling diminati, termasuk oleh kolektor dan komunitas tertentu seperti K-Pop.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat membuat boneka rajut untuk anak sekolah serta backdrop makrame untuk dekorasi pernikahan yang ia rancang sendiri dan selesaikan dalam waktu sekitar satu minggu.

“Rasanya berkesan sekali karena karya itu menjadi bagian dari hari istimewa seseorang. Bukan hanya membuat produk, tetapi ikut menghadirkan kenangan yang akan selalu diingat,” ujarnya.

Naik Kelas Usai Ikut BRI Incubator

Pada akhir 2024, Nur bergabung dengan RubY sebagai bagian dari upayanya mengembangkan Tangan Nona Indonesia. Keputusannya bergabung didorong oleh keinginan untuk memperluas jaringan, meningkatkan eksposur usaha, sekaligus belajar langsung dari ekosistem yang berisi pelaku UMKM dan mentor berpengalaman.

Sebagai perajin, Nur mengaku selama ini lebih banyak berfokus pada produksi dan penciptaan karya. Oleh karena itu, ia merasa perlu memperkuat pemahaman mengenai aspek bisnis agar usahanya dapat berkembang lebih jauh.

"Saya taunya produksi dan menghasilkan karya yang bagus. Tapi untuk skill bisnisnya saya merasa masih kurang. Makanya saya ingin belajar dan mencari tahu bagaimana Tangan Nona Indonesia bisa lebih dikenal," ujarnya.

Menurut Nur, RubY menjadi tempat belajar yang tepat karena menyediakan berbagai materi yang disesuaikan dengan kebutuhan UMKM. Selain itu, produk para pelaku usaha yang tergabung juga mendapat kesempatan untuk dipajang di area display, sehingga membantu meningkatkan visibilitas usaha.

Kesempatan tersebut kemudian membawanya mengikuti program BRI Incubator 2025. Salah satu materi yang paling berkesan baginya adalah inovasi produk dan negosiasi. Dari materi inovasi produk, Nur mulai melihat peluang untuk mengembangkan produk baru melalui kombinasi teknik rajut dan jahit, sekaligus memanfaatkan limbah kain dan perca menjadi produk bernilai tambah.

"Materi inovasi produk sangat membuka wawasan saya. Kami jadi berpikir lebih out of the box dan melihat peluang dari bahan-bahan yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk dimanfaatkan," katanya.

Dampak BRI Incubator bagi Pengembangan Tangan Nona Indonesia

Bagi Nur, manfaat terbesar yang diperoleh dari RubY dan BRI Incubator bukan hanya materi pembelajaran, tetapi juga akses terhadap jaringan dan mentor yang selama ini sulit dijangkau. Ia mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan berbagai pelaku usaha berpengalaman, bahkan di luar sesi kelas.

Salah satu sosok yang paling membekas baginya adalah Andhika, pendiri Agradaya. Nur mengaku banyak memperoleh inspirasi dari pengalaman Andhika dalam membangun usaha bersama istrinya. Menurutnya, keterbukaan sang mentor untuk berdiskusi menjadi nilai tambah yang sangat berharga.

"Bahkan setelah kelas selesai, saya masih bisa berdiskusi lewat media sosial. Mas Andhika sangat terbuka untuk berbagi pengalaman. Itu menjadi privilege tersendiri bagi saya yang mengikuti BRI Incubator," ujarnya.

Berbagai materi yang diperoleh selama program juga mulai diterapkan dalam pengelolaan usaha. Dari sisi pemasaran, Nur merasakan peningkatan visibilitas Tangan Nona Indonesia melalui berbagai eksposur yang diperoleh setelah mengikuti BRI Incubator. Produknya juga mendapat kesempatan untuk ditampilkan di RubY dan dipromosikan melalui berbagai konten pendukung.

Selain itu, pemahaman mengenai manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengembangan produk membuat Nur lebih percaya diri dalam membawa Tangan Nona Indonesia ke tahap berikutnya.

"Materi yang diberikan sangat sesuai dengan kebutuhan usaha kami. Dampaknya terasa, baik dari sisi manajemen, pemasaran, maupun pengembangan produk," katanya.

Omzet Meningkat dan Rencana Membuka Store 

Dalam dua tahun terakhir, perkembangan Tangan Nona Indonesia terlihat dari omzet yang terus meningkat dan kembali digunakan untuk pengembangan usaha, seperti pembelian laptop, mesin portable, hingga peningkatan peralatan kerja.

Seiring pertumbuhan tersebut, Nur juga menargetkan untuk membuka store yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan, tetapi juga ruang workshop bagi pengunjung untuk belajar dan melihat langsung proses pembuatan karya.

"Omzet dari Tangan Nona Indonesia yang telah 2 tahun kita jalanin, menambah beberapa aset untuk pengembangan Tangan Nona.  Dan Insya Allah semoga tahun ini bisa buka store, jadi teman-teman bisa berkunjung atau mengikuti workshop untuk melihat karya kami secara langsung" pungkasnya. 

Merajut Mimpi untuk Perempuan dan Lingkungan

Selain mengembangkan usahanya, Nur juga menginisiasi komunitas Kumpul Crafter sebagai wadah berbagi dan berkembang bagi para pengrajin rajut dan makrame di berbagai daerah. Langkah tersebut sejalan dengan visinya untuk menjadikan Tangan Nona Indonesia bukan sekadar bisnis, melainkan sebuah ekosistem yang mampu memberdayakan perempuan dan para crafter.

Sejalan dengan itu, ia juga mulai mengembangkan produk berbasis keberlanjutan dengan memanfaatkan kain perca dan sisa material produksi agar tidak terbuang sia-sia, sekaligus diolah menjadi karya baru yang memiliki nilai tambah.

“Harapan saya Tangan Nona Indonesia bisa menjadi ekosistem yang tidak hanya tumbuh untuk saya pribadi, tetapi juga untuk banyak orang. Bisa menjadi ruang yang bermanfaat lewat komunitas, workshop, dan juga produk yang lebih ramah lingkungan, terutama dengan pemanfaatan kembali limbah kain menjadi karya baru yang bernilai,” ujarnya.

Di akhir perjalanannya, Nur berpesan kepada para perempuan dan pelaku UMKM yang ingin memulai usaha kreatif dari hobi agar tidak takut untuk memulai. Menurutnya, kunci utama adalah menikmati proses dan tetap konsisten.

“Tetap enjoy dengan karya yang dihasilkan. Jangan takut memikirkan nanti jalannya akan seperti apa, karena kalau kita terus bergerak dan konsisten, jalan itu akan terbuka dengan sendirinya,” katanya.

Menggodok UMKM Lewat BRI Incubator

BRI Incubator menjadi salah satu program tahunan yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas bisnisnya secara lebih intensif. Dalam program ini, sejumlah UMKM yang telah melalui proses kurasi akan mendapatkan pendampingan dan pelatihan secara rutin selama satu hingga dua bulan.

"Program tahunan BRI Incubator ini memang untuk menginkubasi bisnis supaya lebih efektif lagi. Ada beberapa UMKM yang kami kurasi, sekitar 20 UMKM. Mereka mengikuti pelatihan rutin selama satu sampai dua bulan dan benar-benar kami godok," ujar Fiera Dwi Hapsari, Koordinator Rumah BUMN Yogyakarta.

Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan materi dasar mengenai pengelolaan usaha, tetapi juga dibekali berbagai strategi pengembangan bisnis, termasuk cara melakukan business matching agar mampu memperluas jaringan dan menjangkau pasar yang lebih luas.

"Ajarin dari awal, cara untuk business matching seperti apa sampai istilahnya naik kelas," katanya.

Untuk mengukur perkembangan peserta, BRI memanfaatkan platform LinkUMKM yang memungkinkan pelaku usaha melihat tingkat kematangan bisnis mereka melalui sistem penilaian atau scoring. Melalui platform tersebut, UMKM dapat mengetahui sejauh mana perkembangan usahanya setelah mengikuti berbagai program pendampingan dan pelatihan.

"Nah naik kelasnya seperti apa, di BRI itu ada namanya LinkUMKM. LinkUMKM ini bisa lihat kita sejauh apa bisnisnya, scorenya bagaimana. Jadi bisa lihat sejauh mana usaha kita berkembang," jelas Fiera.

Evaluasi juga dilakukan secara berkala untuk mengukur peningkatan kapasitas peserta setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Rumah BUMN maupun BRI.

"Misalnya ada pelatihan dari RuBy, kami selalu melakukan scoring lagi. Jadi bisa dilihat seberapa meningkat dari segi pengetahuan maupun pengelolaan bisnis mereka," ujarnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner