Cara Baru Polda Jabar Hadapi Kejahatan Digital

17 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Biro SDM Polda Jawa Barat (Jabar) menggelar pelatihan kecerdasan buatan atau Artificial Inteligence (AI) untuk melawan hoaks, deep fake, penipuan arisan online, love scamming, penipuan online hingga mencerdaskan masyarakat di dunia digital.

Kabag Binkar Polda Jabar, AKBP Condro Sasongko mengatakan, personel Polda Jabar yang mengikuti pelatihan ini nantinya menjadi trainer yang akan turun ke sekolah, terutama siswa SMA sederajat, untuk menjelaskan tanggung jawab mereka di dunia digital.

Polda Jabar menargetkan antara 37 ribu hingga 40 ribu pelajar maupun masyarakat, bisa mendapatkan pelatihan kecerdasan buatan. Karena AI dan dunia digital bagaikan mata pisau bermata dua, bisa menjadi baik dan jahat bagi penggunanya.

"Pesertanya dari Polda Jawa Barat dan polres jajaran di wilayah hukum kita. Nantinya mereka akan memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, untuk mengajarkan adik-adik kita bagaimana memanfaatkan AI dan digital. Rekan-rekan di jajaran juga bisa meneruskan ke masyarakat, gen Z, juga ke pelajar," ujar Condro, Kamis, (30/07/2026).

Mantan Kapolres Serang 2024 - 2026 itu menjelaskan, banyak yang menyalahgunakan kecerdasan buatan untuk berbuat kejahatan, seperti love scamming. Nantinya pelajar, anak muda hingga masyarakat umum, bisa membantu penyaringan informasi di dunia digital, sehingga bisa membedakan informasi yang benar atau tidak.

Personel polri hingga masyarakat nantinya diharapkan bisa melakukan cek fakta seperti yang sudah dilakukan oleh media arus utama saat ini. Dimana, banyak sekali AI diunggah ke medsos dengan tujuan provokasi.

"Melek AI bukan sekedar bisa menggunakan teknologi, melainkan sebuah kemampuan komprehensif. AI membantu manusia berfikir lebih cepat, manusia tetap memegang kendali, pertimbangan dan tanggung jawab. Kejahatan digital menggunakan AI saat ini masih berupa gunung es," terangnya.

Menurut Condro Sasongko yang sudah malang melintang di dunia reserse ini menjelaskan, setidaknya Polri memiliki empat tantangan dalam adaptasi teknologi, seperti Volatility, yakni perubahan situasi dilapangan yang terjadi sangat cepat.

Kemudian Uncertainty, informasi dan kondisi keamanan semakin sulit diprediksi. Selanjutnya Complexity, permasalahan masyarakat saling terhubung dan rumit. Hingga Ambiguity, yakni arus informasi melimpah, namun tidak selalu jelas dan benar.

"Harapannya, adik-adik kita nanti bisa lebih memahami apa itu informasi hoax hingga deep fake, serta menggunakan AI lebih bertanggung jawab," tuturnya.

Read Entire Article
Global Sports | Otomotif Global | International | Global news | Kuliner